Ari Shinta: Dari Penyanyi Pop Bali Menjadi Mangku Dasaran
Sumber Foto: NUSABALI.com
Hiburan

Ari Shinta: Dari Penyanyi Pop Bali Menjadi Mangku Dasaran

Kutipan Media - Kini, keseharian Ari Shinta berubah drastis. Sepulang bekerja sebagai ASN di Sekretariat DPRD Bangli, ia langsung ngayah menerima penangkilan masyarakat yang datang mencari tuntunan spiritual.

DENPASAR, NusaBali

Publik Bali mengenal Ari Shinta sebagai penyanyi pop Bali berparas cantik dengan suara khas yang lama mewarnai panggung hiburan.

Namun di balik gemerlap dunia entertainment, perempuan bernama asli Ni Nengah Semariasih itu menjalani perjalanan batin panjang yang akhirnya mengantarkannya memilih jalan spiritual sebagai Mangku Dasaran.

Perubahan hidup itu tidak terjadi dalam semalam. Sekitar sepuluh tahun lalu, Ari mengaku mulai mengalami peristiwa yang sulit ia pahami. Tanpa latar belakang spiritual maupun lingkungan religius yang kuat, dirinya tiba-tiba sering mengalami kerauhan atau kondisi spiritual di luar kesadaran.

“Awalnya saya tidak mengerti. Saya kira diri saya sakit, depresi, bahkan sempat berpikir saya gila,” ujarnya kepada NusaBali, Minggu (2/3) ketika mengenang masa-masa awal pencarian jati diri spiritualnya.

Kebingungan itu membuatnya mencari jawaban ke berbagai tokoh spiritual dan pakar sastra Bali. Hampir semua memberikan kesimpulan serupa. Ia memiliki panggilan spiritual sejak lahir.

Meski demikian, Ari sempat menolak kenyataan tersebut karena khawatir mengganggu kariernya di dunia hiburan.

Ia terus menjalani kehidupan sebagai penyanyi dan pekerja profesional. Namun perjalanan hidup justru membawanya pada titik balik berat.

“Saya sakit tanpa sebab jelas, hampir meninggal sampai tiga kali. Banyak kehilangan juga terjadi dalam hidup saya. Di situ akhirnya saya menyerah dan berserah,” tutur wanita berusia 42 tahun ini.

Melalui proses panjang mulai dari tangkil ke pura, berguru spiritual, hingga pengujian secara niskala berdasarkan lontar, Ari akhirnya diyakinkan bahwa dirinya memiliki garis spiritual sebagai Balian Sonteng, yakni pelaku pertenungan spiritual melalui ketaksuan atau nedunang ide sesuhunan.

Momentum pandemi Covid-19 menjadi fase penting. Ari memilih berjalan sendiri, tidak lagi mengikuti kelompok spiritual tertentu. Perlahan, ia mengaku mulai memahami kemampuan menenung atau membaca perjalanan hidup seseorang melalui energi spiritual yang ia rasakan.

Puncaknya terjadi pada Purnama Kadasa tahun ini, ketika dirinya resmi diwintenin dan disahkan secara adat oleh bendesa serta prajuru adat Banjar Pule sebagai Mangku Dasaran. “Sejak sah secara adat, saya tidak berani main-main lagi. Ini tanggung jawab besar,” katanya.

Status baru itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Ari Shinta kini lebih selektif menerima pekerjaan menyanyi maupun menjadi MC. Tempat tampil, jenis lagu, hingga penampilan harus selaras dengan etika kepemangkuan.

Meski demikian, dunia musik tidak pernah benar-benar ia tinggalkan. Justru di tengah perjalanan spiritualnya, Ari Shinta tetap produktif berkarya.

Pada Juni 2025 lalu, penyanyi asal Bangli ini merilis single ‘Bangli Karangasem’ berduet dengan produser sekaligus penyanyi Bayu Nirwana.

Lagu ciptaan Dewa Mayura tersebut mengisahkan perempuan yang berani membuka hati setelah lama menutup diri akibat luka masa lalu. Single itu terasa sangat personal bagi Ari yang lama menjalani hidup sebagai single parent. Lagu tersebut menjadi simbol harapan menemukan sosok yang dapat menerima dirinya apa adanya.

Perjalanan musik Ari Shinta sendiri sudah dimulai sejak kecil. Sejak kelas 4 SD ia aktif mengikuti lomba menyanyi hingga tingkat provinsi. Karier profesionalnya di industri musik Bali dimulai sekitar 2005 dengan sejumlah karya seperti Dueg Ngengkebang, Ngaturang Be Guling ke Pura, Kamu Ya Kamu, Nak Menak, hingga single Sing Kuat dan Tukang Kompor.

Kini, keseharian Ari Shinta berubah drastis. Sepulang bekerja sebagai ASN di Sekretariat DPRD Bangli, ia langsung ngayah menerima penangkilan masyarakat yang datang mencari tuntunan spiritual, bahkan sering berlangsung hingga dini hari.

“Sejak jadi mangku dasaran, hidup terasa lebih tenang dan bermakna. Tapi saya masih belajar, karena perjalanan spiritual itu tidak pernah selesai,” ungkapnya.

Bagi Ari Shinta, panggung hiburan dan jalan spiritual bukanlah dua dunia yang bertentangan. Musik tetap menjadi bagian dari hidupnya, sementara pengabdian spiritual menjadi bentuk tanggung jawab jiwa yang ia yakini telah digariskan sejak lahir.

“Sekarang saya hanya ingin menjalani hidup dengan lebih sadar. Nyanyi tetap jalan, ngayah juga jalan. Semua saya jalani dengan rasa syukur,” tutup perempuan yang dua buah hatinya telah beranjak remaja. *isu