Banjir Malinau Kota: Drainase Terhambat Perilaku Warga
Kutipan Media - RRI.CO.ID, Malinau - Terganggunya fungsi drainase menjadi sorotan di tengah banjir yang melanda Malinau Kota, salah satu wilayah dengan dampak paling parah. Pada titik tertentu di RT 10, ketinggian air sempat mencapai dua meter hingga melumpuhkan aktivitas warga.
Kondisi ini tidak hanya dipicu faktor alam, tetapi juga perilaku sebagian warga yang menutup saluran air. Ketua RT setempat, Burhan, mengatakan wilayahnya memang berada di dataran rendah sehingga mudah tergenang saat debit air meningkat.
Buruknya fungsi drainase semakin memperparah kondisi tersebut, karena air mudah menggenang di permukiman dan bertahan lebih lama.
“Kalau banjir memang karena faktor alam, daerah kami ini rendah, jadi kalau air naik, mudah tergenang. Ditambah lagi pengairan di sini kurang berfungsi, karena perilaku masyarakat juga,” ujar Burhan.
Ia menjelaskan, saluran drainase yang telah dibangun tidak lagi berfungsi optimal. Hal ini disebabkan adanya penimbunan yang dilakukan untuk kepentingan lahan.
“Drainase sudah dibuat, tapi kadang ditimbun warga. Supaya air di sawah tetap tergenang, akhirnya aliran air tertutup,” katanya.
Akibatnya, aliran air terhambat dan tidak memiliki jalur keluar. Kondisi ini membuat banjir di wilayah tersebut cenderung lebih lama surut dibandingkan daerah lain.
Upaya normalisasi drainase memang mulai dilakukan. Namun ukuran saluran yang masih kecil dinilai belum mampu mengalirkan air secara maksimal.
Burhan menyebut sekitar 30 kepala keluarga terdampak banjir di wilayah tersebut. Sebagian warga memilih mengungsi, namun ada juga yang tetap bertahan di rumah dengan kondisi terbatas.
“Ada yang mengungsi, ada juga yang tetap tinggal. Tidur pakai papan seadanya karena mobilisasi sulit,” ujarnya.
Keterbatasan sarana evakuasi juga menjadi kendala. Perahu dari BPBD yang tersedia hanya satu unit untuk melayani warga terdampak.
Selain itu, lamanya genangan menjadi persoalan berulang. Dalam beberapa kejadian, banjir di wilayah ini bisa bertahan hingga hampir satu minggu.
“Di tempat lain sudah surut, di sini masih tergenang. Pernah sampai seminggu,” kata Burhan.
Ia mengusulkan pembangunan kanal yang lebih dalam sebagai solusi jangka panjang. Langkah ini dinilai penting agar air dapat lebih cepat mengalir keluar saat banjir terjadi.




