Bank Indonesia Tegaskan Komitmen Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Sumber Foto: RRI.co.id
Inti Pernyataan

Bank Indonesia Tegaskan Komitmen Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Jakarta - Pasar keuangan menunjukkan reaksi positif terhadap pernyataan terbaru dari Bank Indonesia (BI) terkait upaya penguatan nilai tukar rupiah. Pada penutupan perdagangan Rabu, 14 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat menguat sebesar 0,07 persen atau 11 poin menjadi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS), menurut data Bloomberg.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, pergerakan mata uang global pada awal tahun ini banyak dipengaruhi oleh berbagai tekanan di pasar keuangan dunia, seperti eskalasi ketegangan geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di negara-negara maju, serta ketidakpastian kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Erwin juga menyoroti adanya peningkatan kebutuhan valuta asing di dalam negeri pada awal tahun, yang berkontribusi pada pelemahan nilai tukar rupiah. Meskipun demikian, ia menyatakan bahwa kondisi tersebut sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terpengaruh oleh sentimen global.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI melakukan intervensi baik di pasar domestik maupun luar negeri. Intervensi ini dilakukan melalui Non-Deliverable Forward (NDF) di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder domestik.

“BI akan terus memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” ungkap Erwin.

Dari sisi eksternal, pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh data inflasi AS yang dirilis pada hari yang sama. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa inflasi inti AS per Desember 2025 meningkat 0,2 persen secara bulanan dan tercatat 2,6 persen secara tahunan, angka ini berada di bawah perkiraan. Hal ini memperkuat spekulasi mengenai kemungkinan penurunan suku bunga oleh The Fed sebanyak dua kali pada tahun ini.

Namun, ia juga mencatat bahwa risiko geopolitik tetap menjadi perhatian pelaku pasar, terutama terkait dengan ketegangan di Iran dan campur tangan AS yang dikhawatirkan akan memicu ketidakstabilan di Timur Tengah. Di sisi lain, pelaku pasar juga mengkhawatirkan independensi The Fed, terkait dengan investigasi kriminal yang melibatkan Ketua The Fed, Jerome Powell, oleh Presiden AS, Donald Trump.

“Para investor menjadi gelisah,” kata Ibrahim. Meskipun demikian, ia menambahkan bahwa para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar tetap mendukung Powell untuk menjaga otonomi The Fed.