Kutipan Media - Seorang mantan petinggi Bank of Japan (BOJ), Kenzo Yamamoto, mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga acuan BOJ dapat terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan banyak ekonom, seiring dengan potensi inflasi di Jepang yang bisa mencapai 3%.
Pernyataan ini mencuat di tengah situasi ekonomi Jepang yang selama bertahun-tahun bergulat dengan deflasi dan inflasi yang rendah. BOJ selama ini menerapkan kebijakan moneter ultra-longgar, termasuk suku bunga negatif dan program pembelian aset besar-besaran, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Yamamoto berpendapat bahwa kondisi ekonomi Jepang saat ini mendukung skenario kenaikan suku bunga lebih awal, bahkan sebelum bulan Desember. Inflasi yang mulai terdeteksi didorong oleh kenaikan harga energi global dan pelemahan Yen, yang membuat barang impor menjadi lebih mahal. Ia juga menunjukkan bahwa kenaikan inflasi bukan hanya fenomena sementara, melainkan didukung oleh fundamental yang lebih kuat.
Jika inflasi mencapai 3% dan BOJ menganggapnya sebagai tren yang berkelanjutan, terdapat tekanan bagi bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan. Pernyataan Yamamoto membuka diskusi mengenai kesiapan BOJ untuk meninggalkan kebijakan longgar demi stabilitas harga jangka panjang. Dampak dari kebijakan ini diperkirakan akan signifikan terhadap pasar valas dan aset lainnya secara global.