Gibran Berbincang Hangat dengan Erdogan di KTT G20 Johannesburg
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Gibran Berbincang Hangat dengan Erdogan di KTT G20 Johannesburg

Kutipan Media - JOHANNESBURG, KOMPAS.com - Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming sempat bincang dengan Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi di ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025).

Momen ini terjadi saat para pemimpin negara yang hadir di G20 hendak melakukan sesi foto bersama.

Di momen itu, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa bersama para petinggi negara G20, termasuk Gibran, maju ke atas panggung untuk berfoto.

Sebelum sesi foto dimulai, Gibran bersama Erdogan dan Takaichi tampak berbincang di atas panggung.

Sesekali Gibran turut menggerakkan tangan sambil berbicara kepada Erdogan dan Takaichi.

Selama sesi foto bersama, Gibran berdiri diapit Takaichi di sisi kanannya dan Presiden Komisi Eropa Ursula Gertrud von der Leyen di sisi kirinya. Sementara Erdogan berdiri di sebelah kanan Takaichi.

Usai sesi foto bersama dilakukan, para petinggi negara G20 pun turun panggung. Gibran tampak sigap memegang lengan Erdogan untuk membantunya turun.

Diketahui, KTT G20 di Afrika Selatan akan berlangsung selama dua hari, yakni 22-23 November 2025.

Ajang internasional ini turut dihadiri langsung Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming yang mewakili Presiden RI Prabowo Subianto.

Gibran juga akan berpidato dalam tiga sesi KTT G20. Pada sesi pertama, ia turut menyampaikan pesan Prabowo untuk Presiden Afrika Selatan.

"Izinkan saya memulai dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo kepada Presiden Ramaphosa. Juga, penghargaan yang mendalam kepada Pemerintah Afrika Selatan atas keramahan yang hangat dan penyambutan yang sangat baik," kata Gibran dalam bahasa Inggris.

Gibran juga mengapresiasi kepemimpinan pemerintah Afrika Selatan terkait pelaksanaan G20. Menurutnya, KTT G20 2025 ini momen bersejarah karena ini pertama kali diselenggarakan di tanah Afrika.

"Tonggak sejarah ini menandai perubahan besar di mana negara-negara berkembang tidak lagi menjadi penonton, melainkan menjadi penggerak bersama negara-negara berkembang," ucap Gibran.