Hilirisasi Mineral Dorong Investasi, Fokus pada Industrialisasi Diperlukan
Hilirisasi mineral kembali menjadi kontributor terbesar dalam realisasi investasi nasional sepanjang 2025. Dari total investasi nasional sebesar Rp 1.931,2 triliun, sektor hilirisasi menyumbang 30,2% atau sekitar Rp 584,1 triliun, menjadikannya pendorong utama pertumbuhan investasi Indonesia.
Kontribusi terbesar berasal dari sektor mineral, dengan total Rp 373,1 triliun, yang terdiri dari Nikel Rp 185,2 triliun, Tembaga Rp 65,9 triliun, Bauksit Rp 53,1 triliun, Baja Rp 39,2 triliun, Timah Rp 11,3 triliun, dan mineral lainnya sebesar Rp 18,4 triliun.
Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan sektor lain seperti perkebunan dan kehutanan Rp 144,5 triliun, migas Rp 60 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp 6,4 triliun. Data tersebut menegaskan bahwa hilirisasi mineral telah menjadi tulang punggung investasi nasional.
Kendati demikian hilirisasi dinilai masih perlu melangkah ke tahap industrialisasi. Meski capaian investasi tersebut sangat positif, para ekonom menilai Indonesia kini memasuki fase baru yang lebih menantang: mengubah hilirisasi menjadi industrialisasi menyeluruh.
Fahmy Radhi, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), menilai hilirisasi saat ini masih didominasi oleh pembangunan smelter, sehingga nilai tambah lanjutan belum sepenuhnya tercapai.
“Pemerintah tidak cukup hanya mengejar besaran investasi. Hal yang lebih penting adalah memastikan investasi tersebut membangun ekosistem industrialisasi yang lengkap dari hulu hingga hilir,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, pemerintah masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan kualitas investasi melalui penguatan rantai pasok, diversifikasi produk, dan peningkatan teknologi industri.
Fahmy juga mencontohkan proyek hilirisasi alumina–aluminium yang dikembangkan oleh anak usaha MIND ID seperti PT Inalum, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), sebagai contoh hilirisasi yang mulai mengarah pada industrialisasi yang lebih matang.
Sementara itu, Ahmad Heri Firdaus, Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menegaskan, tantangan besar berikutnya adalah membangun industri produk jadi (end products) agar nilai tambah hilirisasi dapat dinikmati di dalam negeri.
“Indonesia harus mampu memproduksi end product di dalam negeri. Perlu ada iklim usaha yang memberikan nilai plus kepada investor agar mereka bersedia berinvestasi hingga tahap produk jadi,” jelasnya.
Ahmad mengingatkan, hilirisasi harus menghasilkan nilai tambah optimal, bukan berhenti pada produk setengah jadi atau intermediate goods. Adapun pemerintah siapkan 20 proyek hilirisasi baru.
Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Investasi dan Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, sebelumnya menyampaikan pemerintah telah menyiapkan 20 proyek hilirisasi strategis dengan potensi investasi sekitar US$ 26 miliar dan penciptaan hingga 600 ribu lapangan kerja. Sebanyak enam proyek telah diresmikan pada Februari 2026, sementara sisanya masih dalam tahap konstruksi dan negosiasi investasi.
Dengan kontribusi 30,2% terhadap total investasi nasional, hilirisasi mineral diperkirakan masih akan menjadi pilar utama investasi pada 2026. Pemerintah terus mengupyakan investasi besar ini mampu menjadi motor bagi penciptakan nilai tambah lanjutan, memperkuat ekosistem industri nasional, membangun rantai pasok domestik, dan menghasilkan keberlanjutan ekonomi jangka panjang.




