Indonesia Raih Peringkat 4 dalam Diplomasi Digital G20
20:23
Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah diplomasi global. Proses negosiasi dan komunikasi internasional kini tidak lagi berlangsung hanya di ruang pertemuan tertutup, melainkan juga di ruang publik digital yang sarat dengan permainan opini dan persepsi global.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Informasi dan Media Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI), Hartyo Harkomoyo, dalam Seminar “Peran Engagement Publik dalam Diplomasi Digital Indonesia” yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Diplomasi Publik Kemlu RI, pada Selasa (28/10) di Amphitheater Gedung Pascasarjana UMY. Seminar ini menghadirkan akademisi dan praktisi untuk membahas peran publik dalam strategi diplomasi digital Indonesia di era keterbukaan informasi global.
Hartyo menjelaskan bahwa paradigma kekuasaan dunia kini telah bergeser. Jika dulu kekuatan global ditentukan oleh penguasaan sumber daya alam atau kekuatan militer, kini faktor utama adalah kemampuan mengelola informasi dan membentuk persepsi publik internasional.
“Di dunia digital ini, yang dimainkan adalah persepsi dan opini. Siapa yang menguasai opini, dialah yang menguasai dunia. Kalau dulu penguasa minyak adalah penguasa dunia, kini yang menguasai informasi yang menentukan arah global,” ujar Hartyo di hadapan mahasiswa HI UMY.
Ia menegaskan bahwa Indonesia telah berada di jalur yang tepat dalam mengembangkan diplomasi digital. Berdasarkan Digital Diplomacy Index yang menilai kemampuan negara-negara anggota G20, Indonesia menempati peringkat keempat, dengan peningkatan signifikan dalam aspek format proficiency, yakni kemampuan memainkan narasi digital di berbagai platform media sosial.
Meski demikian, Hartyo mengakui masih ada ruang untuk perbaikan, khususnya dalam aspek diplomatic centrality, yakni keterhubungan strategis antarnegara besar. Menurutnya, Indonesia telah unggul dalam memainkan narasi, namun perlu memperkuat konektivitas global agar diplomasi digital Indonesia memiliki dampak yang lebih strategis dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Hartyo menekankan bahwa diplomasi di era digital bukan lagi monopoli diplomat semata, melainkan terbuka bagi seluruh masyarakat, termasuk mahasiswa yang aktif di media sosial.
“Keterlibatan publik dalam menyebarkan narasi positif tentang Indonesia merupakan bagian dari diplomasi digital itu sendiri. Kita ingin mendengar pandangan masyarakat luas tentang dunia masa depan dan bagaimana peran diplomat akan berkembang,” ungkapnya.
Sebagai alumni Hubungan Internasional UMY, Hartyo menilai kampus memiliki peran strategis dalam membentuk literasi diplomasi digital dan kemampuan berpikir kritis generasi muda terhadap isu-isu global. Melalui kegiatan akademik seperti ini, mahasiswa diharapkan memahami bahwa diplomasi modern tidak hanya tentang negosiasi politik, tetapi juga kemampuan mengelola komunikasi, citra, dan reputasi bangsa di tengah kompetisi global. (ID)




