Kutipan Media - Kolakaposnews.com - Peneliti dari Xidian University, Tiongkok, berhasil menurunkan biaya produksi cip inframerah gelombang pendek (SWIR) hingga 99 persen, dari ratusan hingga ribuan dolar AS menjadi sekitar 10 dolar AS per unit. Terobosan ini memungkinkan teknologi yang sebelumnya eksklusif untuk militer dan satelit bisa diadopsi secara luas di perangkat sipil seperti kamera smartphone dan kendaraan otonom.
Terobosan Teknologi dan Tantangan Produksi
Cip SWIR dikenal mampu bekerja dalam gelap total serta menembus kabut, asap, dan material tertentu, sehingga selama ini penggunaannya terbatas pada pengintaian satelit, drone militer, dan sistem persenjataan. Namun, tingginya harga cip berbasis indium gallium arsenide (InGaAs) menjadi hambatan utama untuk aplikasi sipil.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim peneliti memanfaatkan material silikon-germanium dan proses complementary metal-oxide-semiconductor (CMOS) yang umum dalam industri semikonduktor. Wang Liming, anggota tim, menegaskan bahwa "Ini berarti kami dapat memproduksi detektor inframerah gelombang pendek, yang sebelumnya sangat mahal, menggunakan metode dan basis biaya yang sama seperti pembuatan cip smartphone."
Kendati demikian, perbedaan struktur kristal antara silikon dan germanium sebesar 4,2 persen berpotensi menimbulkan cacat material. Tim mengatasi masalah ini dengan menambahkan lapisan penyangga serta menerapkan perlakuan panas dan teknik kimia untuk mencegah kebocoran arus listrik pada cip.
Performa Kompetitif dan Produksi Massal
Hasil pengembangan menunjukkan performa yang kompetitif secara global. Dalam rilis resmi disebutkan bahwa "baik dalam efisiensi deteksi maupun pengendalian noise, pencapaian tim telah mencapai atau bahkan menyamai tingkat paling maju yang ditunjukkan oleh pemimpin industri global seperti Sony, TSMC, dan Artilux." Sementara itu, rantai produksi terintegrasi tengah dibangun melalui Hangzhou Institute of Technology dan perusahaan rintisan Zhixin Semiconductor dengan target produksi massal mulai akhir tahun ini.