Karya dan Pemikiran Sapardi Djoko Damono: Sastrawan yang Menggugah Hati
Sumber Foto: kompas.com
Petikan Media

Karya dan Pemikiran Sapardi Djoko Damono: Sastrawan yang Menggugah Hati

Sapardi Djoko Damono adalah salah satu sastrawan terkemuka di Indonesia, dikenal luas karena gaya penulisannya yang menggunakan bahasa sederhana namun penuh makna. Beliau lahir di Solo, Jawa Tengah, dan merupakan anak tertua dari dua bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di kota kelahirannya sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM), di mana ia meraih gelar sarjana pada tahun 1964.

Selain sebagai sastrawan, Sapardi juga mengabdikan diri sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pada tahun 1995, ia dikukuhkan sebagai guru besar dan pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra dari tahun 1996 hingga 1999. Selain itu, ia aktif berkontribusi dalam berbagai lembaga seni dan sastra pada dekade 1970-an hingga 1980-an, termasuk menjadi bagian dari redaksi majalah sastra Horison dan menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Kutipan Cinta Sapardi Djoko Damono

Banyak karya Sapardi yang menyentuh tema cinta, dan berikut adalah sepuluh kutipan cinta dari beliau yang dapat dibagikan:

  • Aku musafir yang sedang mencari air, kamu sungai yang melata di bawah padang pasir.
  • Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.
  • Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
  • Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri.
  • Hanya doaku yang bergetar malam ini dan tak pernah kaulihat siapa aku, tapi yakin aku ada dalam dirimu.
  • Mencintai cakrawala harus menebas jarak, mencintaimu harus menjadi aku.
  • Katamu dulu kau takkan meninggalkanku. Omong kosong belaka! Sekarang yang masih tinggal, hanyalah bulan, yang bersinar juga malam itu. Dan kini muncul kembali.
  • Yang fana adalah waktu. Kita abadi, memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
  • Dalam doa malamku, kau menjelma denyut jantungku.
  • Barangkali sudah terlalu sering ia mendengarnya, dan tak lagi mengenalnya.

Karya-karya Sapardi tidak hanya mencerminkan kedalaman perasaan, tetapi juga menunjukkan keindahan bahasa yang dapat menghubungkan pengalaman manusia dengan cara yang sederhana namun mendalam.