Kereta Parahyangan Tetap Menjadi Pilihan Perjalanan dari Jakarta ke Bandung
Sumber Foto: Parboaboa
Lifestyle

Kereta Parahyangan Tetap Menjadi Pilihan Perjalanan dari Jakarta ke Bandung

PARBOABOA, Jakarta – Saat ini kian banyak saja angkutan umum dari Jakarta menuju Bandung. Ya, seperti jalan menuju Roma saja.

Ada yang terus mengalir dari subuh hingga malam. Travel sebutannya. Aneka merek, titik anjaknya di Ibukota tersebar.

Tujuannya juga beberapa, mulai dari Pasteur, Dipati Ukur, Buah Batu, hingga Jatinangor. Menjadi bagian dari Kabupaten Sumedang, yang terakhir ini telah menjadi kota mahasiswa dalam belasan tahun terakhir sebab di sanalah berada kampus kedua milik Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Di samping travel yang dipelopori perusahaan bernama Cipaganti, ada pula bus. Kendati termasuk angkutan tertua, populeritasnya kian berkurang saja belakangan ini.

Sebabnya? Dari dan ke terminal belaka sehingga tidak sepraktis travel. Tidak menempuh jalur bebas macet jalan layang Sheikh Mohammed Bin Zayed (MBZ) yang digunakan travel, waktu tempuhnya tentu lebih lama.

Begitupun, kelebihannya tetap ada yakni ongkosnya lebih murah. Tarifnya dari Rp50 ribu hingga Rp135 ribu. Sedangkan travel, Jakarta-Bandung dan sebaliknya rata-rata Rp150 ribu.

Kereta api cepat juga tersedia: Whoosh. Berpangkalan di Halim Perdanakusumah, tujuannya Padalarang atau Tegal Luar yang sudah mengarah ke Jatinangor. Kalau dari Jakarta ke Padalarang waktu tempuhnya cuma 40-45 menit.

Angkutan lawas lain yang mesti disebut adalah kereta api Parahyangan. Sebelum tol Cipularang ada, kuda besi inilah kendaraan umum pilihan kelas menengah-atas Bandung.

Para karyawan dan akademisi yang sedang ada urusan di Jakarta sangat mengandalkannya.

Stasiunnya di jantung kota, panorama memikat menghampar di sepanjang lintasan, dan kini cukup tiga jam saja untuk menjangkau Ibukota.

Tak seperti yang dulu dikawatirkan kalangan tertentu, Whoosh ternyata tidak mematikan Parahyangan.

Punya plus-minus, sampai hari ini keduanya malah cenderung saling melengkapi. Tarif Whoosh Rp 300 ribu (di saat tertentu bisa Rp250 ribu). Sedangkan Parahyangan separuhnya saja (gerbong khususnya ada juga yang bertarif Rp450 ribu).

Kalau hendak bepergian sembari bekerja tiga jam—membaca, menulis, meriset, dan yang lain—Parahyangan-lah yang pas ditumpangi.

Bila tidak di kursi sendiri yang bermeja lipat, bisa di restorasi. Sambil menyantap nasi gorengnya yang klasik serta menikmati kopi atau teh dan sesekali menyapukan pandangan ke alam di luar, akan lebih nikmat rasanya.

Jika naik Whoosh, waktunya terlalu singkat. Seperti kata mereka yang sedang berguyon, pantat baru merasakan kursi empuk ternyata sudah sampai di Padalarang.

Kereta Parahyangan yang bersejarah panjang memang punya daya sihir sendiri. Begitu pula tujuan akhirnya, Stasiun Bandung yang terletak di Jalan Kebun Kawung, Pasir Kaliki.