Kutipan Inspiratif RA Kartini dari Buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang' untuk Peringatan Hari Kartini
Sumber Foto: Tribunjatim.com
Petikan Media

Kutipan Inspiratif RA Kartini dari Buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang' untuk Peringatan Hari Kartini

Pada tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, sebuah momen untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini, seorang pahlawan nasional yang menjadi pelopor emansipasi wanita di Indonesia. Kartini, yang lahir pada 21 April 1879 dan meninggal pada 17 September 1904 di Rembang, Hindia Belanda, telah meninggalkan warisan yang berharga melalui tulisan-tulisannya.

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang ditujukan kepada sahabat-sahabatnya. Setelah wafat, surat-surat tersebut dikumpulkan dan diterbitkan oleh Mr. JH Abendanon dengan judul asli Door Duisternis tot Licht, yang secara harfiah berarti 'Dari Kegelapan Menuju Cahaya'. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

Kutipan Inspiratif dari 'Habis Gelap Terbitlah Terang'

  • “Yang tidak berani, tidak menang” - Semboyan ini mencerminkan semangat Kartini untuk terus maju dan menghadapi tantangan tanpa rasa takut. (hal. 19)
  • “Aduhai Tuhan! Alangkah penuhnya kejagatan di dunia ini, di dunia ini penuh hal-hal yang menimbulkan rasa benci dan ngeri” - Ungkapan ini menunjukkan keprihatinan Kartini terhadap kondisi dunia yang sering kali dipenuhi dengan ketidakadilan. (hal. 47)
  • “Agama yang harusnya menjauhkan kita dari berbuat dosa, justru menjadi alasan yang sah kita berbuat dosa” - Kartini mengungkapkan pandangan kritisnya terhadap penyalahgunaan agama dalam kehidupan sehari-hari. (hal. 24)
  • “Anak perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan serta pandangannya telah diperluas tidak akan sanggup lagi hidup dalam dunia nenek moyangnya” - Pernyataan ini menggambarkan harapan Kartini agar perempuan mendapatkan pendidikan yang layak dan mampu mengubah nasib mereka. (hal. 93)

Kutipan-kutipan tersebut tidak hanya menjadi refleksi perjuangan Kartini, tetapi juga inspirasi bagi generasi penerus dalam memperjuangkan kesetaraan dan hak perempuan di Indonesia.