Menelusuri Pesona Alam Perkebunan Teh Pangalengan
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Menelusuri Pesona Alam Perkebunan Teh Pangalengan

Jalan-jalan menikmati keindahan alam bisa menjadi aktivitas yang membahagiakan. Tidak perlu biaya mahal, cukup meluangkan sedikit waktu, mengenakan pakaian ternyaman, jangan lupa jaket agar tidak masuk angin, dan pastikan tangki bensin kendaraan terisi penuh.

Itulah yang saya lakukan pada hari Minggu kemarin. Libur kerja menjadi kesempatan untuk kembali menghidupkan semangat yang mulai mengendur.

Baca juga:

Memanjakan mata sekaligus menjalin kembali kehangatan hubungan keluarga yang selama lima atau enam hari hanya diisi rutinitas pergi bekerja lalu pulang dengan tubuh lelah.

Maka rasanya, tidak ada salahnya pergi sejenak menikmati keindahan alam. Kali ini, kami memilih berkeliling di pinggiran Kabupaten Bandung.

Kompasiana Hamparan Perkebunan teh Malabar yang disisipi bunga Pacar Air menambah keindahan (dokumen pribadi)

Berangkat dari rumah pukul sembilan pagi, saya dan suami memang berniat hanya menyusuri jalanan yang sepanjang sisinya dipenuhi pemandangan indah.

Tanpa tiket masuk, tanpa antrean panjang, keindahan itu sudah bisa dinikmati secara cuma-cuma.

Kami melewati hamparan sawah, perkebunan, sesekali pemukiman penduduk, hingga akhirnya tiba di kawasan perkebunan teh Malabar, Pangalengan.

Sepanjang perjalanan, saya tak berhenti berdecak kagum. Berulang kali melafalkan pujian dan rasa syukur karena Allah masih memberi kesehatan dan mata yang bisa melihat keindahan ciptaan-Nya.

Udara segar kaya oksigen bisa dihirup tanpa perlu membeli. Angin sepoi dan suhu yang sejuk cenderung dingin menyempurnakan rasa syukur yang saya rasakan saat itu.

Meski mendung dan hujan sempat turun, tidak mengurangi semangat dan tekad kami untuk tetap menikmati hari.

Kami pun berteduh di sebuah lokasi pengumpul teh bersama para pengendara lain sambil menikmati pemandangan yang terasa semakin syahdu saat hujan.

Tak jarang, saya juga menyampaikan terima kasih kepada suami yang selalu saja bisa dan selalu "hayu" ketika saya mengajaknya jalan-jalan.

Ia selalu tahu ke mana saya ingin pergi, apa yang ingin saya lihat, dan bagaimana cara menikmatinya tanpa harus terburu-buru.

Daun teh yang sudah dipetik dikumpulkan di pinggir jalan (dokumen pribadi)

Hamparan kebun teh yang luas seakan tak pernah membosankan untuk diabadikan. Belum lagi, bunga Pacar Air yang berwarna ungu muda ikut menyelinap di antara pohon teh menambah keindahannya.

Beberapa pemetik teh tampak sibuk bekerja dan mengumpulkan karung berisi daun teh segar di pinggir jalan.