Menjaga Lisan di Tengah Tantangan Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memulai masa jabatannya dengan pernyataan yang memicu kontroversi. Dalam respons terhadap tuntutan masyarakat, Purbaya menyatakan bahwa ia belum mempelajari isu tersebut, tetapi menekankan bahwa hal itu merupakan suara dari sebagian kecil rakyat. Ia optimis bahwa jika pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6%, maka permasalahan tersebut akan teratasi, dan masyarakat akan lebih fokus pada pekerjaan dan kesejahteraan mereka.
Pernyataan ini memicu reaksi yang beragam di media sosial, dengan beberapa pihak menganggapnya kurang empati dan bahkan sombong. Di tengah ketegangan politik yang masih berlangsung, ucapan seorang menteri sering kali dianggap sebagai pernyataan resmi yang tidak bisa dianggap sepele. Hal ini mengingatkan kita pada berbagai pernyataan publik yang telah menimbulkan kesalahpahaman di masa lalu.
Contohnya, saat Presiden Jokowi menyatakan, 'saatnya kita berdamai dengan COVID-19', banyak yang menafsirkannya secara keliru, menganggap bahwa pemerintah sudah menyerah dalam menghadapi pandemi. Pernyataan semacam ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi yang jelas dan tepat dari para pemimpin.
Purbaya menyadari dampak dari ucapannya dan meminta maaf saat serah terima jabatan, berjanji untuk memperbaiki cara berkomunikasinya. Ia juga menekankan pentingnya mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, yang akan berimplikasi pada penyerapan tenaga kerja dan ketersediaan pangan, sehingga mengurangi potensi demonstrasi.
Dengan lebih dari 7,2 juta orang yang tercatat sebagai pengangguran dan lebih dari 25,7 juta orang yang tidak bekerja penuh, pernyataan Purbaya mengenai pencapaian pertumbuhan ekonomi perlu dicatat sebagai tantangan yang harus dibuktikan. Janji-janji tersebut, termasuk harapan akan kondisi yang lebih baik dalam waktu tiga bulan ke depan, harus diikuti dengan tindakan nyata.
Penting bagi para pemimpin untuk menjaga komunikasi yang setara dan tidak memandang suara publik sebagai hal yang sepele. Tindakan komunikatif, menurut para ahli, harus mengedepankan argumen yang rasional serta empat klaim validitas: kebenaran, ketepatan, kejujuran, dan keterpahaman.
Dengan demikian, daripada sering meminta maaf atas kesalahan berbicara, lebih baik menjaga lisan dan memastikan bahwa setiap pernyataan dapat dipertanggungjawabkan. Seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, 'Jagalah lidahmu sebagaimana kamu merawat emas dan perak.'




