MUI: Proses Tabayun soal Pertemuan Istibsyaroh dengan Presiden Israel Terkendala Jarak
Jakarta — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan proses tabayun atau klarifikasi terkait Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI, Istibsyaroh, belum berjalan lancar. Tabayun dilakukan untuk memeriksa pertemuan Istibsyaroh dengan Presiden Israel Reuven Rivlin di Tel Aviv.
Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid mengatakan pembahasan dalam rapat pada Selasa (21/2) sempat direncanakan, namun akhirnya ditunda karena keterbatasan waktu.
Menurut Zainut, penundaan juga dipengaruhi kondisi Istibsyaroh yang saat ini berada di Surabaya sepulang umrah. Ia menambahkan, Istibsyaroh sudah menyerahkan surat pernyataan terkait peristiwa tersebut, namun dokumen itu masih perlu dinilai.
“Yang bersangkutan sudah memberi surat pernyataan. Tapi (surat) itu harus kami nilai dulu. Proses pemeriksaan sudah jalan, cuma beliau sekarang posisinya masih di Surabaya. Jadi harus menyamakan waktunya dulu,” kata Zainut.
Zainut mengaku tidak mengingat secara rinci isi surat pernyataan itu. Namun, ia menyebut inti pernyataan tersebut menegaskan bahwa pertemuan dengan Presiden Israel terjadi tanpa unsur kesengajaan.
“Intinya itu yang pasti beliau tidak dalam posisi sengaja bertemu Presiden Israel. Beliau tidak tahu jika akan bertemu Presiden Israel waktu itu,” ujarnya.
Sebelumnya, MUI telah menggelar rapat pimpinan untuk membahas sanksi bagi Istibsyaroh. Zainut menegaskan keputusan terkait sanksi akan didahului proses klarifikasi melalui tim tabayun yang dibentuk MUI.
“Pasti kami ingin mendengarkan dahulu, proses tabayun yang dilakukan. Karena kami bentuk tim untuk klarifikasi ke beliau sehingga kami mendengarkan hasil klarifikasi itu. Dari situlah kami bisa menilai tingkat kesalahannya, baru kami putuskan itu,” kata Zainut.




