NASA Tunda Peluncuran Artemis, Saham Perangkat Lunak Tertekan oleh AI
NASA menunda kembalinya ke Bulan.
NASA telah mengumumkan penundaan peluncuran roket Artemis setelah kebocoran bahan bakar ditemukan selama uji coba di Kennedy Space Center. Insiden tersebut terjadi ketika ratusan ribu galon hidrogen cair sedang dimuat ke dalam kompartemen penyimpanan, memaksa para insinyur untuk menghentikan proses pada tahap akhir.
Menurut badan antariksa AS, peluncuran roket akan ditunda hingga Maret untuk memberikan lebih banyak waktu untuk analisis data dan pemecahan masalah. Keempat astronot yang dijadwalkan untuk penerbangan tersebut telah dibebaskan dari karantina dan akan kembali sebelum jendela peluncuran yang baru.
Misi Artemis diharapkan membuka jalan bagi kehadiran manusia jangka panjang di Bulan. Meskipun penerbangan pertama hanya berlangsung sekitar 10 hari dan tidak mendarat, penerbangan tersebut menguji sistem pendukung kehidupan dan kemampuan operasional pesawat ruang angkasa.
Perusahaan-perusahaan raksasa perangkat lunak merasa khawatir dengan AI.
Perusahaan perangkat lunak Eropa seperti SAP, Experian, LSEG, dan RELX mengalami penurunan tajam harga saham. SAP kehilangan nilai lebih dari €38 miliar setelah pendapatan komputasi awan menurun, meningkatkan kekhawatiran investor bahwa AI akan menggantikan perangkat lunak tradisional.
Banyak perusahaan dipaksa untuk menunjukkan bahwa mereka memanfaatkan AI alih-alih "tertelan" oleh AI. Experian memperkenalkan asisten AI EVA untuk mendukung layanan konsumen, tetapi sahamnya tetap turun hampir 9% minggu lalu. Para ahli percaya bahwa integrasi AI diperlukan untuk mempertahankan kepercayaan pasar.
Beberapa analis berpendapat bahwa reaksi aksi jual tersebut berlebihan, menunjukkan bahwa AI dapat membuka peluang baru bagi perusahaan data dan perangkat lunak. Namun, dengan harga saham yang masih merugi, para pemimpin harus berupaya meyakinkan orang lain bahwa AI adalah sebuah peluang, bukan akhir dari industri ini.
Spanyol mengambil sikap tegas terhadap media sosial.
Menurut Reuters, Spanyol sedang bersiap untuk memberlakukan undang-undang baru yang akan meminta pertanggungjawaban pribadi para eksekutif media sosial jika platform mereka gagal untuk segera mengatasi konten ilegal atau yang berisi ujaran kebencian. Ini adalah langkah tegas dalam upaya untuk mengendalikan lingkungan daring.
Pemerintah telah menekankan bahwa platform-platform besar seringkali lambat dalam menghapus konten yang menghasut kekerasan, rasisme, dan disinformasi. Undang-undang baru ini akan mewajibkan perusahaan untuk memiliki mekanisme respons cepat, jika tidak, para eksekutif senior dapat menghadapi konsekuensi hukum.
Usulan ini diharapkan dapat menekan perusahaan teknologi untuk meningkatkan sensor dan transparansi. Namun, RUU ini juga memicu perdebatan tentang batasan antara melindungi masyarakat dan kebebasan berbicara daring.




