Pengalaman Memetik Apel: Harapan untuk Pariwisata Kalteng
Sumber Foto: ANTARA News Kalteng
Petikan Media

Pengalaman Memetik Apel: Harapan untuk Pariwisata Kalteng

Palangka Raya (ANTARA) - Senyum bahagia terpancar di wajah Azuba ketika ia memetik apel langsung dari pohonnya. Buah-buah tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik, dan setelah terkumpul cukup banyak, ia membawanya ke timbangan untuk dibayar. Azuba, seorang wartawati asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, mengalami momen menggembirakan ini saat berkunjung ke kebun apel milik masyarakat di Desa Tulung Rezo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Jawa Timur, pada Selasa (12/9/2023).

Di dalam mobil jip yang mengantarkannya, Azuba membayangkan jika pengalaman ini dapat terwujud di kampung halamannya. Namun, lamunan tersebut segera sirna saat suara mesin mobil jip lainnya memecah kesunyian, membawa dirinya dan puluhan rekan wartawan ke lokasi selanjutnya.

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Tengah menyewa belasan mobil jip untuk membawa wartawan merasakan sensasi memetik apel langsung dari pohon sembari mengelilingi kebun yang telah disulap menjadi objek wisata. "Pengalaman ini sangat menyenangkan dan luar biasa. Seharusnya Kalteng juga bisa seperti ini," ungkap Azuba.

Kalteng memiliki potensi pariwisata yang tidak kalah dengan Jawa Timur, terutama Kota Batu. Provinsi yang memiliki luas 153.444 kilometer persegi ini kaya akan sumber daya alam, lahan subur, dan budaya yang beragam. Meskipun ada potensi seperti jambu kristal yang bisa diangkat menjadi objek wisata, pengembangannya masih terbatas.

Rekan Azuba, Asep Wiguna, juga tertarik untuk mengetahui mengapa kebun apel di Kota Batu bisa menjadi salah satu objek wisata yang menarik banyak pengunjung. Dalam diskusinya dengan sopir jip, Dedi AR, terungkap bahwa kebun apel di Desa Tulung Rezo awalnya adalah lahan milik masyarakat yang tidak terkelola sebagai objek wisata. Perekonomian para petani sangat bergantung pada hasil panen apel yang hanya dua kali setahun, dan sering mengalami kerugian karena biaya pemeliharaan yang terus meningkat.

Dedi menjelaskan, "Harga jual apel per kilogram sangat murah, sekitar Rp10 ribu. Ini tidak sebanding dengan biaya pemeliharaan dan tenaga kerja." Dengan adanya wisata petik apel, para petani kini merasa lebih bersemangat karena penghasilan dari wisatawan bisa mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

Sejak 2015, wisata petik apel mulai ramai dikunjungi dan sejumlah pemuda di Kecamatan Bumi Aji membentuk agen pemandu wisata. Mereka tidak hanya mengelola kebun apel, tetapi juga mengajak petani untuk bekerja sama. Pemuda yang terlibat dalam event organizer ini turut merasakan manfaat ekonomi dari kehadiran wisatawan.

Sudarmono, pendiri salah satu agen pemandu wisata, menjelaskan bahwa perkembangan sektor pariwisata juga berkontribusi pada pengurangan kriminalitas, karena masyarakat, khususnya pemuda, memiliki pekerjaan dan usaha.

Kepala BI Perwakilan Kalteng, Taufik Saleh, meyakini bahwa Kalteng memiliki potensi pariwisata yang besar. "Kita perlu mengoptimalkan potensi yang ada dan mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah untuk mengembangkan pertanian dan pariwisata," ujarnya. Taufik berharap, melalui pengalaman seperti ini, masyarakat Kalteng termotivasi untuk mengembangkan wisata petik buah dan menarik pengunjung domestik maupun internasional.