Pengalaman Memetik Buah Apel: Inspirasi untuk Pariwisata Kalteng
Palangka Raya, Kalimantan Tengah - Senyum bahagia tergambar di wajah Azuba, seorang wartawati asal Pangkalan Bun, ketika ia memetik buah apel langsung dari pohon di kebun Desa Tulung Rezo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Jawa Timur. Pengalaman ini menjadi momen yang tak terlupakan baginya, dan ia berharap Kalteng dapat mengembangkan potensi wisata serupa.
Acara memetik apel ini diadakan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Tengah, sebagai bagian dari Forum Komunikasi Media (FKM) 2023. Azuba merasa bahwa Kalteng memiliki banyak potensi wisata yang belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk keindahan alam dan keunikan budaya lokal.
Kalteng, yang memiliki luas 153.444 kilometer persegi, menyimpan berbagai sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata. Di antara potensi tersebut adalah kebun jambu kristal di Palangka Raya yang, meskipun belum terorganisir sebagai objek wisata, memiliki peluang untuk dikembangkan.
Mengamati Keberhasilan Wisata Apel di Kota Batu
Azuba bukan satu-satunya wartawan yang terkesan dengan pengalaman memetik apel. Rekan sejawatnya, Asep Wiguna, juga merasa penasaran tentang mengapa kebun apel di Kota Batu menjadi daya tarik wisata. Melalui pembicaraan dengan sopir jip, Dedi AR, terungkap bahwa kebun apel di Desa Tulung Rezo awalnya adalah lahan pertanian masyarakat yang kini menjadi tempat wisata.
Dedi menjelaskan tantangan yang dihadapi petani apel, termasuk kenaikan biaya pupuk dan tenaga kerja. Meskipun harga jual apel sangat rendah, inisiatif membawa wisatawan untuk memetik buah langsung dari pohon memberikan harapan baru bagi para petani. Kini, harga apel yang dijual kepada wisatawan bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual ke pengumpul.
Dampak Positif Pariwisata Petik Apel
Wisata petik apel di Kecamatan Bumi Aji tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berkontribusi dalam menekan tingkat kriminalitas. Sudarmono, pendiri agen pemandu wisata, menyatakan bahwa dengan banyaknya peluang kerja yang tersedia, masyarakat setempat, terutama pemuda, menjadi lebih produktif dan tidak terpikirkan untuk melakukan tindakan kriminal.
Sudarmono juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat kedatangan wisatawan. Awalnya, ia menghadapi skeptisisme dari warga, namun kini banyak yang telah merasakan manfaat dari pariwisata. Dengan adanya agen pemandu wisata, lebih dari 60 orang telah terlibat dalam kegiatan ini, dan banyak usaha baru bermunculan di sekitar lokasi wisata.
Peluang untuk Kalteng
Kepala BI Perwakilan Kalteng, Taufik Saleh, sepakat dengan pandangan Azuba bahwa Kalteng memiliki potensi besar di sektor pariwisata. Ia menyebut Kalteng sebagai 'raksasa yang tertidur' dan menekankan perlunya dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur yang mendukung wisata. Taufik berharap dengan optimalisasi potensi wisata, jumlah wisatawan yang datang ke Kalteng akan meningkat, yang pada gilirannya akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian lokal.
Dengan semangat dan kerjasama masyarakat, Kalteng berpotensi untuk menciptakan pengalaman wisata yang menarik, mirip dengan yang ada di Kota Batu. Kesadaran dan dukungan yang tepat dapat menjadikan provinsi ini sebagai salah satu destinasi wisata yang diminati di Indonesia.




