Penurunan Wisatawan Asing ke Jepang Dipicu Krisis Hubungan dengan China
Sumber Foto: Kompas.com
Lifestyle

Penurunan Wisatawan Asing ke Jepang Dipicu Krisis Hubungan dengan China

KOMPAS.com - Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jepang mengalami penurunan pada Januari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ini menjadi penurunan pertama dalam empat tahun terakhir untuk perbandingan bulan yang sama.

Dilansir dari SoraNews24 pada 19 Februari 2026, berdasarkan data dari Japan National Tourism Organization (JNTO), total wisatawan asing yang datang ke Jepang pada Januari 2026 tercatat sekitar 3.597.500 orang.

Angka tersebut turun sekitar 4,9 persen dibandingkan Januari 2025 yang mencapai 3.781.629 orang.

Penurunan ini menjadi yang pertama sejak Januari 2022, ketika pembatasan terkait pandemi Covid-19 masih berlaku.

Menurut laporan tersebut, turunnya angka kunjungan hampir sepenuhnya disebabkan oleh anjloknya wisatawan dari China.

Jumlah turis asal China pada Januari 2026 hanya sekitar 385.300 orang, turun drastis sekitar 60,7 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 980.520 orang.

Penurunan besar ini disebut berkaitan dengan imbauan dari pemerintah China kepada warganya untuk menunda atau menghindari perjalanan ke Jepang, menyusul dinamika hubungan politik antara kedua negara.

Selain China, Hong Kong juga mencatat penurunan jumlah wisatawan ke Jepang.

Meski demikian, sejumlah negara lain justru menunjukkan tren peningkatan.

Korea Selatan menjadi penyumbang wisatawan terbesar pada Januari 2026 dengan sekitar 1,176 juta pengunjung, meningkat sekitar 21,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini menjadi pertama kalinya Korea Selatan melampaui China dalam laporan bulanan tersebut.

Kunjungan dari Taiwan juga meningkat sekitar 17 persen.

Sementara itu, wisatawan dari Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Inggris turut mencatat pertumbuhan kedatangan.

Data ini menunjukkan bahwa meski pasar wisata dari China melemah, Jepang masih mampu menarik minat wisatawan dari berbagai negara lain.

Namun, laporan tersebut juga menegaskan bahwa industri pariwisata sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan antarnegara.