Peran Strategis Indonesia dalam G20 2026 untuk Ekonomi Global Inklusif
Internasional

Peran Strategis Indonesia dalam G20 2026 untuk Ekonomi Global Inklusif

Kutipan Media - Pemerintah Indonesia berupaya memperkuat peran strategisnya dalam mendorong tata kelola ekonomi global yang inklusif dan berkelanjutan melalui partisipasi aktif dalam Presidensi G20 2026 yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Pertemuan Sherpa G20 ke-2 yang berlangsung di Washington DC pada 29–30 Juni 2026 menjadi forum penting untuk merespons dinamika ekonomi global dengan kebijakan yang lebih pragmatis.

Awal Kejadian

Dalam pertemuan ini, pembahasan pada hari pertama difokuskan pada reformasi perdagangan global dan penguatan ketahanan energi. Dalam Kelompok Kerja Perdagangan, negara anggota G20 membahas isu-isu utama seperti penghapusan kerja paksa, peninjauan prinsip Most Favored Nation (MFN), kelebihan kapasitas produksi, serta praktik “persenjataan pangan”. Indonesia, melalui Sherpa G20 Edi Prio Pambudi, menyampaikan bahwa pemerintah telah mengimplementasikan kebijakan pembatasan impor produk terkait kerja paksa dan meratifikasi sembilan Konvensi Fundamental ILO.

Perkembangan

G20 mendorong peninjauan prinsip MFN agar lebih mencerminkan asas timbal balik dalam perdagangan internasional. Selain itu, pembahasan mengenai kelebihan kapasitas diarahkan untuk memperbarui prinsip global dalam mengatasi surplus produksi. Anggota G20 juga mengutuk praktik “weaponization of food” dan mengusulkan mekanisme transparansi untuk mencegah penyalahgunaan perdagangan pangan sebagai alat tekanan geopolitik. Dalam Kelompok Kerja Energi, G20 menyepakati prinsip ketahanan dan keterjangkauan energi global yang mencakup perluasan pasokan dan perlindungan terhadap ancaman siber.

Kondisi Terakhir

Memasuki hari kedua, Indonesia menegaskan perannya sebagai pembangun konsensus di tengah ketidakpastian global, termasuk penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh IMF. Indonesia mendorong simplifikasi regulasi investasi, optimalisasi instrumen pembiayaan, dan penguatan pengawasan ekonomi global secara adil oleh IMF dan OECD. Dalam Innovation Working Group, Indonesia menekankan pentingnya tata kelola AI yang berorientasi pada perlindungan masyarakat serta penguatan kerja sama internasional dalam penanganan kejahatan digital. Indonesia juga tengah menyusun Peta Jalan AI Nasional untuk memastikan bahwa standar global AI inklusif bagi negara berkembang.

You can share this post!