Perjalanan Panjang EJAE: Dari Trainee SM hingga Meraih Grammy lewat 'Golden'
Sumber Foto: Radar Malioboro
Hiburan

Perjalanan Panjang EJAE: Dari Trainee SM hingga Meraih Grammy lewat 'Golden'

RADAR MALIOBORO - Nama EJAE jadi perbincangan global setelah lagu “Golden” dari film KPop Demon Hunters meledak di berbagai tangga lagu dunia.

Lagu ini bukan hanya sukses secara komersial, tapi juga mengantarkan EJAE pada pencapaian yang nyaris tak terbayangkan sebelumnya, yakni memenangkan penghargaan di Grammy Awards 2026.

Namun, di balik sorotan tersebut, ada perjalanan panjang yang dipenuhi penantian, kegagalan, dan ketekunan yang sering luput dari perhatian.

Jauh sebelum namanya dikenal dunia, EJAE yang bernama asli Kim Eun-jae, menghabiskan masa remajanya sebagai trainee di SM Entertainment, salah satu agensi terbesar di industri K-pop.

Melansir kpopnews.world, ia masuk SM sejak usia 11 tahun dan bertahan selama 12 tahun sebagai trainee.

Masa yang seharusnya diisi dengan sekolah dan kehidupan remaja justru ia habiskan di ruang latihan, menunggu kesempatan debut yang tak kunjung datang.

Dalam sistem K-pop, menjadi trainee saja sudah sangat sulit, tetapi debut jauh lebih sempit lagi jalannya.

Banyak trainee berbakat yang gugur di tengah jalan.

EJAE menyaksikan teman-teman seperjuangannya debut sebagai Girls’ Generation, SHINee, f(x), hingga Red Velvet, sementara dirinya tetap berada di balik cermin ruang latihan.

Ia pernah mengenang masa itu dengan perasaan campur aduk dan rasa bersalah pada dirinya yang muda karena telah mengorbankan begitu banyak hal.

Melansir The Chosun Daily, rutinitas EJAE selama menjadi trainee sangat keras.

Ia berangkat ke ruang latihan sejak pagi dan baru pulang menjelang tengah malam.

Jam latihan dibagi rata antara menyanyi dan menari, masing-masing sekitar enam jam.

Ia bahkan pernah pingsan karena kelelahan. Namun, kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan hasil.

Ia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa, meski sudah berusaha maksimal, pintu debut tak juga terbuka.

Seiring bertambahnya usia, peluang EJAE untuk debut sebagai idol semakin mengecil.

Industri K-pop sangat menekankan usia muda, dan pada usia 23 tahun, kontrak trainee EJAE akhirnya dihentikan.

Momen itu menjadi salah satu titik terberat dalam hidupnya.

Rasa kecewa menyelimuti dirinya karena mimpi yang ia kejar selama lebih dari satu dekade seolah berakhir begitu saja.

Namun, kisah EJAE tidak berhenti di sana.

Alih-alih meninggalkan musik, ia memilih jalan lain, yakni menjadi penulis lagu.

Pengalaman panjangnya di SM melalui disiplin ketat, kepekaan musikal, dan daya tahan mental justru menjadi bekal besar untuknya.

Ia mulai menulis lagu untuk artis lain, perlahan membangun namanya di balik layar industri K-pop.

Terobosan besar datang ketika EJAE terlibat dalam penulisan lagu “Psycho” milik Red Velvet.

Lagu tersebut sukses besar dan memperkuat reputasinya sebagai songwriter berbakat.

Setelah itu, namanya semakin sering muncul di kredit lagu-lagu K-pop populer, termasuk untuk aespa dan TWICE.

Ironisnya, meski tak debut sebagai idol SM, justru lewat sistem SM itulah EJAE menemukan panggilan hidupnya yang sebenarnya.

Meski sukses sebagai penulis lagu, EJAE masih relatif anonim bagi publik.

Dunia mengenal karyanya, tetapi tidak mengenal suaranya.

Hingga akhirnya, pada 2024, datang tawaran yang mengubah segalanya lewat proyek film animasi Netflix KPop Demon Hunters.

EJAE tidak hanya terlibat sebagai penulis, tetapi juga menjadi pengisi suara sekaligus penyanyi utama lagu tema “Golden” bersama Audrey Nuna dan Rei Ami.

“Golden” langsung mencuri perhatian dunia.

Lagu ini merajai berbagai tangga lagu internasional dan memperkenalkan suara EJAE kepada jutaan pendengar global.

Bagi banyak orang, EJAE terlihat seperti bintang yang muncul secara tiba-tiba.

Padahal, kemunculan itu adalah hasil dari belasan tahun latihan, kegagalan, dan proses panjang yang tidak terlihat.

Puncak dari perjalanan ini terjadi pada Grammy Awards 2026, ketika “Golden” memenangkan kategori Best Song Written for Visual Media.

Penghargaan ini secara resmi diberikan kepada para penulis lagunya, termasuk EJAE.

Kemenangan ini menjadi simbol penting, karena EJAE dikenal sebagai sosok yang berlatih bertahun-tahun dalam sistem K-pop tanpa pernah debut, tapi akhirnya berhasil meraih salah satu penghargaan tertinggi di industri musik dunia.

Bagi banyak orang, kisah EJAE mematahkan anggapan bahwa kesuksesan hanya ditentukan oleh debut atau panggung utama.

Perjalanannya menunjukkan bahwa mimpi bisa berubah bentuk tanpa kehilangan maknanya.