Kutipan Media - Piala Dunia bukan hanya sebuah turnamen sepak bola terbesar, tetapi juga dianggap sebagai laboratorium untuk menguji dampak investasi publik terhadap perekonomian. Pertanyaan yang muncul adalah apakah menjadi tuan rumah Piala Dunia selalu mendatangkan keuntungan ekonomi.
Pada Piala Dunia 2022, Qatar menginvestasikan dana besar, diperkirakan antara USD200–300 miliar. Namun, sebagian besar dana tersebut tidak semata-mata untuk penyelenggaraan pertandingan, melainkan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih luas.
Menurut laporan dari International Monetary Fund (IMF), pembangunan stadion hanya menyerap sekitar USD6,5 miliar, sedangkan sebagian besar investasi dialokasikan untuk proyek-proyek seperti jaringan metro, pelabuhan, bandara, jalan raya, hotel, dan kawasan perkotaan. Ini sejalan dengan Qatar National Vision 2030 yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Teori Keynes menyatakan bahwa belanja pemerintah dapat menciptakan efek ganda. Hal ini terlihat di Qatar, di mana sektor konstruksi mengalami lonjakan permintaan selama hampir satu dekade, menghasilkan proyek bernilai miliaran dolar dan menyerap ribuan tenaga kerja. Setelah infrastruktur selesai, sektor-sektor lain seperti hotel, restoran, transportasi, dan industri kreatif juga merasakan dampaknya.
Piala Dunia 2022 menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh penyelenggaraan acara, tetapi juga oleh bagaimana negara memanfaatkan momentum tersebut untuk mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.