Pimpinan Gereja HKBP Desak Penutupan PT Toba Pulp Lestari untuk Lindungi Masyarakat dan Lingkungan
Sumber Foto: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara - AMAN
Inti Pernyataan

Pimpinan Gereja HKBP Desak Penutupan PT Toba Pulp Lestari untuk Lindungi Masyarakat dan Lingkungan

Pimpinan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Victor Tinambunan, mengeluarkan seruan untuk menutup perusahaan PT Toba Pulp Lestari (TPL), yang telah dianggap menyengsarakan masyarakat Tano Batak selama lebih dari tiga dekade. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa penutupan perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai PT Inti Indorayon Utama ini adalah langkah penting untuk mencegah kerusakan ekosistem yang lebih parah di masa depan.

Pernyataan Pdt. Victor Tinambunan tersebut disampaikan melalui akun Facebook pribadinya pada 7 Mei 2025. Ia menegaskan bahwa penutupan TPL bukan sekadar desakan emosional, melainkan langkah preventif yang diperlukan demi kelangsungan hidup masyarakat di Tano Batak, serta untuk keberlanjutan ekologis di tingkat global.

Menurut Pdt. Victor, mayoritas masyarakat di Tano Batak tidak mengenal pemilik atau pimpinan TPL secara langsung, dan relasi sosial antara perusahaan dan masyarakat sekitar selama ini dinilai tidak dibangun dengan baik. Ia menggambarkan situasi ini sebagai "kegagalan etika yang serius."

Lebih lanjut, Pdt. Victor mengungkapkan ketimpangan ekonomi yang terjadi di daerah tersebut, di mana meskipun TPL meraih keuntungan besar dari sumber daya alam setempat, manfaat tersebut tidak dirasakan secara adil oleh masyarakat lokal. "Ketimpangan ini mencerminkan ketidakadilan dalam distribusi manfaat ekonomi," ujarnya.

Pdt. Victor juga menyoroti dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh TPL, termasuk kerusakan ekosistem dan bencana ekologis, serta dampak sosial yang merusak hubungan antarwarga. Ia menegaskan bahwa situasi ini bukanlah dampak insidental, melainkan manifestasi dari konflik struktural yang telah lama berlangsung tanpa penyelesaian yang memadai.

Atas dasar kondisi tersebut, Ephorus HKBP ini menyerukan agar TPL segera menghentikan operasionalnya. Ia juga meminta agar karyawan yang terdampak diberikan pesangon yang layak sebagai modal untuk memulai usaha baru.

Seruan ini mendapatkan dukungan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tano Batak. Jhontoni Tarihoran, Ketua Pelaksana Harian AMAN Wilayah Tano Batak, menyatakan bahwa pernyataan Pdt. Victor merupakan representasi suara masyarakat yang telah lama menderita akibat keberadaan TPL. Ia menekankan pentingnya pengembalian wilayah adat yang selama ini diklaim sebagai bagian dari konsesi TPL kepada masyarakat adat setempat.

Rocky Pasaribu, Direktur Program Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), juga memberikan apresiasi atas seruan penutupan TPL dari Ephorus HKBP. Menurutnya, pernyataan ini mencerminkan keberpihakan gereja terhadap penderitaan masyarakat yang terdampak. Ia berharap seruan ini diikuti oleh pemimpin gereja lainnya.

Sorbatua Siallagan, seorang tokoh masyarakat adat dari Dolok Parmonangan, juga menyambut baik sikap terbuka dari Pdt. Victor. Ia berharap seruan ini didengar oleh pemerintah dan menginginkan penutupan TPL segera terwujud.