Prabowo Capai 79% Kepuasan, Namun Kesenjangan Harapan dan Realitas Terus Berlanjut
Sumber Foto: Smart Newsroom
Perspektif

Prabowo Capai 79% Kepuasan, Namun Kesenjangan Harapan dan Realitas Terus Berlanjut

Tingkat Kepuasan Publik Terhadap Presiden Prabowo Capai 79%, Namun Ketidakpuasan Masih Ada

Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto tercatat mencapai 79 persen, menunjukkan dukungan yang kuat dalam kepemimpinannya. Namun, di tengah angka kepuasan yang tinggi, keluhan masyarakat terkait kondisi ekonomi tetap terdengar.

Peneliti senior dari LSI Denny JA, Rully Akbar, mengungkapkan bahwa fenomena ini dapat dijelaskan melalui pendekatan teori sosial, khususnya teori relative deprivation yang dikemukakan oleh Ted Robert Gurr. Menurutnya, ketidakpuasan masyarakat tidak hanya berasal dari kemiskinan absolut, melainkan dari kesenjangan antara harapan dan realitas yang dialami.

Rully menjelaskan bahwa meskipun indikator makro dari Badan Pusat Statistik menunjukkan stabilitas dalam kondisi ekonomi, pengalaman hidup masyarakat seringkali tidak mencerminkan data tersebut. Kenaikan biaya hidup yang dirasakan masyarakat menciptakan kesenjangan persepsi antara data agregat dan realitas yang dihadapi setiap individu.

Selain itu, di era digital saat ini, masyarakat semakin mudah membandingkan diri mereka dengan orang lain di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan harapan masyarakat meningkat dengan cepat, sementara kenyataan kadang tidak sesuai. Fenomena ini semakin memperbesar ketidakpuasan atau relative deprivation yang dirasakan oleh banyak orang.

Dalam konteks politik, persepsi publik menjadi sangat penting. Rully menekankan bahwa jika kesenjangan antara harapan dan realitas ini terus melebar, maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat terkikis meskipun angka kepuasan tetap tinggi. Persepsi negatif dapat berpengaruh pada legitimasi pemerintah di mata rakyat.

Dengan adanya kondisi ini, penting bagi pemerintah untuk lebih mendengarkan keluhan masyarakat dan berupaya menjembatani kesenjangan antara harapan dan realitas. Masyarakat berhak mendapatkan kepuasan yang tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana pemerintah dapat menjawab tantangan ini menjadi pertanyaan yang perlu dijawab ke depan.