Kutipan Media - Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi melemah 6 poin atau 0,03 persen, menjadi Rp18.115 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.109 per dolar AS. Melemahnya rupiah dipicu oleh pasar yang masih menunggu data inflasi Amerika Serikat.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah saat ini cenderung terbatas. Dia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp18.060 hingga Rp18.170 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp18.100 hingga Rp18.120 per dolar AS. Riset ini menunjukkan bahwa sentimen domestik tidak sepenuhnya negatif, tetapi lebih dipengaruhi oleh ketidakpastian data inflasi AS dan pernyataan Ketua Bank Sentral AS yang dijadwalkan pada 14 Juli.
Pasar memperkirakan inflasi AS untuk bulan Juni akan melambat menjadi 3,9 persen secara tahunan, meskipun inflasi inti diperkirakan tetap di level 2,9 persen. Josua menyatakan bahwa jika inflasi AS lebih rendah dari ekspektasi dan nada dari Bank Sentral AS tidak terlalu ketat, maka ada peluang bagi rupiah untuk menguat kembali ke kisaran Rp18.030 hingga Rp18.080 per dolar AS. Sebaliknya, jika inflasi inti AS tetap tinggi atau pernyataan bank sentral terdengar ketat, rupiah berpotensi menguji level Rp18.180 hingga Rp18.220 per dolar AS.
Tekanan pada rupiah juga berasal dari harga minyak yang meningkat. Harga minyak Brent naik 3,43 persen harian menjadi 78,6 dolar AS per barel dan telah meningkat 29,2 persen sejak awal tahun. Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan dampak negatif bagi rupiah, mengingat Indonesia masih merupakan pengimpor minyak bersih. Jika harga minyak tetap tinggi, pasar akan memproyeksikan risiko tambahan terkait impor energi, subsidi, inflasi, neraca transaksi berjalan, serta cadangan devisa. Di sisi lain, ada sentimen positif dari S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat Indonesia di BBB dengan prospek stabil, meskipun mereka juga mencatat pelemahan rupiah sekitar 7 persen pada semester pertama tahun ini dan perlunya menjaga tekanan fiskal-eksternal.