Sampah Menghiasi Jembatan Brooklyn, Turis Dianggap Penyebab Utama
Sumber Foto: detikTravel
Lifestyle

Sampah Menghiasi Jembatan Brooklyn, Turis Dianggap Penyebab Utama

detikTravel Travel News

Menjijikkan! Kondom, Tampon Sampai Celana Dalam 'Hiasi' Jembatan Brooklyn

Bonauli - detikTravel

Sabtu, 21 Feb 2026 18:26 WIB

New York -

Jembatan Brooklyn menjadi salah satu ikon wisata Amerika Serikat. Tempat berburu sunrise ini makin hari makin menjijikkan!

Dikutip dari New York Post pada Sabtu (21/2/2026), pemandangan memilukan terlihat di Jembatan Brooklyn. Jembatan suspensi ini penuh dengan sampah yang diduga berasal dari turis.

Baca juga: Gegara Pria Mabuk dan Resek, Penerbangan Jadi Tertunda

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puluhan tisu kotor, ikat rambut, kondom, tampon, dan bahkan celana dalam diikatkan ke pagar setiap hari dengan frekuensi yang sangat tinggi. Sampai-sampai, tim pembersih yang peduli lingkungan tidak mampu mengatasi sampah tersebut.

Seorang turis Inggris bernama Helen Burton mengaku bahwa mereka meninggalkan ikat rambut di pagar jembatan sebagai kenang-kenangan. Sebelumnya, mereka tidak mengetahui tentang tren ini, sampai tiba di sana.

ADVERTISEMENT

"Itu sesuatu yang kami bawa, jadi kami pikir itu cukup bagus!" katanya.

Seorang wisatawan remaja bernama Amelie (13) dan adiknya, Jess (11) tak ingin ketinggalan tren. Mereka meninggalkan sesuatu untuk menujukkan bahwa mereka pernah berkunjung ke sana. Bahkan, sampah-sampah itu dianggap otentik.

Tren menjijikkan ini telah mengganggu Jembatan Brooklyn selama bertahun-tahun. Adanya gelombang dingin dan salju mendorong penduduk setempat untuk mengambil tindakan sendiri untuk membersihkan tumpukan sampah yang memalukan itu.

"Saya berjalan melewati jembatan hampir setiap hari. Dan suatu hari saya hanya berkata, 'Saya sudah muak!'" kata Ellen Baum, dari Brooklyn Heights, yang telah mendokumentasikan pengumpulan sampahnya yang mengesankan di media sosial setiap hari sejak 3 Februari.

Baum membutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk membersihkan bagian pagar yang jarak antara dua tiang. Tetapi para turis seakan tak peduli dan terus mengikat bungkus permen mereka bahkan saat mereka menyaksikan dia membersihkan sampah.

"Ini membawa keberuntungan," kata seorang turis setelah mengikat plastik ke pagar.

Darcey Baldock, 16 tahun, dari London, mengikat ikat rambut ke tumpukan sampah karena semua orang melakukannya.

"Jembatan ini sangat ikonik, dan rasanya seperti meninggalkan sebagian dari diri kita di sini," tambah ibunya, Victoria.

Banyak pejalan kaki menunjukkan ekspresi jijik di wajah mereka saat mereka berjalan melewati tumpukan sampah.

"Ini bukan pemandangan terbaik, tapi ini New York," kata Marilie Padua dari Toronto, yang menuduh semua turis merusak jembatan dengan sampah.

Departemen Transportasi, yang bertanggung jawab untuk merawat Jembatan Brooklyn, mengatakan bahwa mereka melakukan pembersihan rutin di sepanjang jalur pejalan kaki, tetapi tidak dapat mengatakan seberapa sering patroli tersebut dilakukan.

Pihak berwenang juga tidak menyebutkan berapa banyak tilang yang telah diberikan dalam beberapa bulan terakhir karena membuang sampah sembarangan.

"Jembatan Brooklyn yang ikonik telah disebut sebagai 'Menara Eiffel-nya Amerika,' dan menumpuk sampah di atasnya mengurangi kenikmatan setiap orang yang menggunakan jembatan dan membebani para pekerja keras yang merawat landmark bersejarah ini," kata seorang juru bicara dalam sebuah pernyataan.

Masalah sampah ini tampaknya merupakan peningkatan dari masalah pariwisata yang telah coba diatasi oleh kota di Jembatan Brooklyn selama satu dekade.

Sebelumnya, wisatawan telah membebani landmark tersebut dengan gembok cinta" sebagai tiruan yang buruk dari jembatan Pont des Arts yang ikonik di Prancis, yang melengkung karena berat gembok logam tersebut.

Namun beberapa warga mulai membersihkan jembatan Brooklyn ini dari sampah. Salah satunya Ellen Baum. Dia mengatakan sudah muak melihat sampah berserakan di Jembatan Brooklyn dan memutuskan untuk membantu.

Baca juga: Mulusnya Penumpang Naik Pesawat Tanpa Boarding Pass, Berujung di Pengadilan