Teknologi Modern Selamatkan Nyawa Korban Kecelakaan
Sumber Foto: Tirto.id
Teknologi

Teknologi Modern Selamatkan Nyawa Korban Kecelakaan

tirto.id - Perkembangan teknologi di era modern lekat dengan stigma melenakan dan merugikan, mulai dari dampak media sosial hingga akal imitasi yang destruktif. Padahal, keberadaan teknologi tak jarang membantu manusia senyatanya.

Dalam sejumlah kasus, korban kecelakaan fatal dapat selamat berkat bantuan perangkat teknologi. Kecanggihan alat modern buatan manusia dapat mempercepat proses evakuasi dan menyelamatkan nyawa korban.

Peristiwa kecelakaan yang melibatkan teknologi dalam proses penyelamatannya terjadi di berbagai belahan bumi, dari Australia, Amerika Serikat, hingga di wilayah lautan lepas Samudra Hindia. Ada yang terselamatkan berkat perangkat mutakhir macam iPhone. Ada pula yang berhasil dievakuasi berkat layanan darurat.

Perangkat Kecil PLB, Penyelamat Nyawa

Jake McCollum, 18 tahun, adalah salah satu di antara beberapa korban kecelakaan fatal yang terbantu oleh adanya teknologi.

Pada 30 November 2025, McCollum melakukan pendakian solo di Gunung Walsh, Queensland, Australia. Tapi sayang, targetnya mencapai puncak Walshs Pyramid tak pernah tercapai.

McCollum tak sempat memikirkan puncak gunung ketika ia mendapati dirinya jatuh dari ketinggian 80 meter. Bahkan, terlintas di pikirannya bahwa ia tak akan selamat.

Cukup masuk akal jika McCollum membayangkan dirinya akan menemui ajal di sana. Bagaimana tidak, ia mengalami patah tulang dan rusuk, pendarahan internal, serta cedera kepala. Sementara itu, memanggil bantuan sudah nyaris mustahil sebab handphone (HP) miliknya rusak parah.

"Angin itu membuatku kaget dan aku berpikir bahwa mungkin semuanya sudah berakhir. Aku tidak benar-benar berpikir bisa selamat," ucapnya, seperti dikutip ABC News.

Dalam kondisi separah itu, McCollum ingat barang kecil yang dibawanya: Personal Locator Beacon (PLB), perangkat darurat portabel kecil yang mampu mengirimkan sinyal darurat terenkripsi melalui satelit guna memberitahu layanan penyelamatan.

Tanpa perlu berpikir panjang, McCollum mulai merangkak ke arah ransel yang dibawa. Ia lantas mencoba untuk mengaktifkan perangkat PLB.

Menurut laporan People, sinyal PLB kepunyaan McCollum akhirnya diterima petugas di Canberra. Panggilan itu ditujukan kepada orang tua. Lantas, pihak keluarga merespons dan menghubungi balik via HP sebanyak dua kali.

Setelah proses saling salur-menyalurkan koneksi itu, McCollum akhirnya mendengar suara sang ibu, Rachel.

"Aku mendengar dengan sangat, sangat samar: ‘Ibu, aku terluka parah.' Dan aku merasa hatiku hancur, lututku lemas, itu mungkin berita terburuk yang pernah kau dengar," kata Rachel kepada 7News.

" Aku tidak tahu berapa kali dia mengatakan selama panggilan telepon itu: ’Aku pikir aku akan mati,’" lanjut Rachel.

Petugas akhirnya menemukan Jake McCollum, meskipun membutuhkan waktu sekira 5 jam sebelum melihat tanda kaki. Saat ditemukan, ia berpakaian serba hitam, dalam posisi tengkurap, berada di bawah kanopi vegetasi tebal.

Selamat dari Ganasnya Samudera Berkat Sinyal Darurat Satelit

Nasib Abby Sunderland juga sama nahasnya dengan McCollum, sebelum bisa diselamatkan berkat keberadaan perangkat teknologi.

Peristiwa itu terjadi ketika Abby masih berusia 16 tahun. Sebagai remaja, ambisinya masih menggebu-gebu. Tak main-main, gadis asal California tersebut bertekad untuk berlayar sendirian menggunakan kapal yacht Wild Eyes demi meraih asa mengelilingi dunia.

Di tengah ganasnya lautan, Abby mengalami kendala besar. Kapal yacht yang ditumpanginya terbalik berkali-kali akibat diterjang angin berkecepatan 60 knot dan gelombang tinggi 50 kaki.

Dalam kondisi tegang, untungnya, Abby masih bisa berpikir rasional. Ia langsung mengaktifkan dua sinyal darurat satelit di kapalnya, yang berukuran 40 kaki.

Menurut penjelasan Sara Corbett, dua sinyal darurat itu secara otomatis menunjukkan lokasi Abby, lalu mengirim sinyal lewat satelit ke pusat penyelamatan maritim di seluruh dunia. Kabar tersebut akhirnya berhasil disebarkan luas melalui saluran berita dan internet.

Berdasarkan keterangan Laurence Sunderland, orang tua Abby, upaya penyelamatan dilakukan dengan bantuan pesawat sewaan milik maskapai Australia. Sebelumnya, tim penyelamat memastikan lebih dulu kondisi sang gadis.

"Dia mengatakan kepada mereka bahwa dia baik-baik saja, dia dalam keadaan sehat, dan kapal tidak kemasukan air," ujarnya kepada ABC News.

Setelah terombang-ambing di lautan selama nyaris 24 jam, Abby akhirnya bisa dievakuasi setelah pesawat pencarian melihat kapal yacht Wild Eyes miliknya. Sebuah kapal penangkap ikan komersial asal Prancis juga turut memberikan pertolongan.

HP Pendeteksi Kecelakaan Mobil

Dalam situasi darurat dan sendirian, korban kecelakaan membutuhkan perangkat teknologi untuk setidaknya memanggil bantuan. Itulah yang berhasil dilakukan oleh Jake McCollum dan Abby Sunderland. Lantas, bagaimana jika korban dalam kondisi tidak sadar? Apakah teknologi masih bisa membantu?

Lindsay Leskovac, gadis 16 tahun asal Pennsylvania, AS, pernah mengalami peristiwa itu.

Cerita berawal saat Leskovac sedang dalam perjalanan pulang habis mengantar temannya pada 2 Agustus 2025. Tapi nahasnya, ia malah tertidur saat mengemudi. Kecelakaan fatal pun tak terhindarkan. Kendaraannya menabrak pohon dan dua tiang.

Untungnya, gawai yang dipakai Leskovac cukup canggih. iPhone 14 miliknya mendeteksi adanya kecelakaan, lalu secara otomatis menghubungi kontak darurat, 911.

Leskovac, yang sebelumnya tak sadarkan diri, akhirnya terbangun setelah mendengar suara operator.

"Dia berbicara di telepon dengan mereka selama 22 menit, memberitahu mereka [otoritas setempat] siapa dia, siapa kami, siapa orang tuanya, dan mereka berusaha melacak lokasinya. Dia berada jauh di luar jalan raya. Mereka melacak lokasinya untuk mencoba mengirim tim penyelamat ke tempatnya," ungkap Laura, ibu kandung Lindsay Leskovac, dikutip dari Inquisitr.

Menurut

Laura, ketika itu Lindsay Leskovac bisa saja ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Pasalnya, putrinya mengalami patah tulang paha kanan kiri, tulang belakang, leher, tulang belikat, pergelangan tangan kanan, serta kaki kiri.

"Dia terbalik di dalam mobil, tapi untungnya dia memakai sabuk pengaman, jadi dia tidak terlempar keluar," tambah Laura.

Berkat deteksi dan telepon otomatis itu, Leskovac berhasil dievakuasi dan diselamatkan. Tim pertolongan tiba di lokasi dan menemukannya dengan kondisi terjebak di dalam kendaraan.

Emergency SOS Bikin Pendaki Tetap Hidup

Tak hanya Lindsay Leskovac, Jake McCollum, dan Abby Sunderland, kecanggihan teknologi melalui gawai juga mampu menyelamatkan nyawa seorang pendaki berusia 53 tahun.

Pada Senin, 30 Juni 2025, Pitkin County Regional Emergency Dispatch Center menerima laporan adanya pendaki yang mengalami cedera pergelangan tangan ketika turun dari Gunung Snowmass, Colorado, AS.

Mengutip keterangan dari akun Instagram @Mountain Rescue Aspen, pendaki tersebut awalnya mengirim pesan kepada anggota keluarganya bahwa ia sedang terjebak. Pesan itu berhasil dikirimkan meskipun lokasinya tak terjangkau sinyal seluler dan Wi-Fi. Semuanya berkat fitur unggulan perangkat Apple, yang memungkinkan SMS dan iMessage dikirim via jaringan satelit.

Berdasarkan informasi dari The Aspen Times, peringatan darurat melalui perangkat komunikasi satelit diterima pada pukul 10.18 pagi hari. Kabar tersebut kemudian disampaikan oleh keluarga pendaki kepada otoritas setempat.

Mountain Rescue Aspen (MRA) lantas turun tangan bersama Colorado Search and Rescue Association (CSAR), dengan dukungan pihak Colorado National Guard dari High-Altitude Army National Guard Aviation Training Site (HAATS).

Sebuah helikopter Blackhawk milik HAATS diterjunkan guna mengevakuasi korban. Setelah itu, pendaki tersebut langsung dibawa menuju Rumah Sakit Aspen Valley.

Sejak kejadian tersebut, Mountain Rescue Aspen bersama Kepolisian Pitkin mengingatkan para pendaki agar selalu membawa perangkat komunikasi darurat dan mengetahui cara menggunakan layanan pesan teks satelit. Hal itu bertujuan mempermudah dan mempercepat proses penyelamatan andai saja terjadi sebuah insiden.

Bagaimana dengan Smartwatch Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500?

Secercah harapan penyelamatan dengan bantuan teknologi juga sempat muncul pasca-kecelakaan pesawat ATR 42-500, yang jatuh di wilayah Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, pada pertengahan Januari 2026.

Selama proses pencarian, tim SAR menemukan HP milik salah satu korban, yang ternyata merupakan Co-Pilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan.

Tak lama setelah itu, tim SAR mendapat informasi dari pihak keluarga yang membawa HP Farhan, bahwa telah terdeteksi adanya tanda kehidupan melalui catatan langkah kaki yang mencapai 9.000 langkah. Hal ini diketahui melalui smartwatch yang masih terhubung dengan HP korban.

Kata sang kekasih, Pitri Keandedes Hasibuan, pergerakan langkah kaki Farhan terjadi jam 6 pagi dan jam 10 sampai dengan malam hari. Pihak keluarga pun berharap posisi korban saat itu dapat ditemukan.

Smartwatch memang dilengkapi dengan GPS. Fitur navigasi dan pelacakan pun bisa diakses secara langsung melalui smartwatch ataupun telepon pintar yang tersambung.

Menukil dari Starmax Technology, GPS di smartwatch berkomunikasi dengan minimal tiga satelit yang mengirimkan sinyal. Komunikasi itu secara otomatis merekam lokasi dan waktu tepat ketika sinyal dikirim. Bahkan, pembaruan lokasinya dapat dipantau secara real time.

Namun demikian, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menjelaskan, data pergerakan Farhan, seperti yang dikatakan pihak keluarga, sudah terjadi beberapa bulan silam. Artinya, bisa dibilang sudah usang.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafi’i, pada Selasa (20/1/2026), menyampaikan bahwa pihaknya sudah membuka HP Farhan dan turut bekerja sama dengan Polda Sulawesi Selatan. Mereka memastikan data pergerakan Farhan terekam di Yogyakarta, alias sebelum peristiwa kecelakaan.

smartwatch. Meski demikian, pada akhirnya Farhan berhasil ditemukan, termasuk sembilan korban lainnya.

Dalam kasus Farhan, teknologi tak bisa membantu pencarian korban kecelakaan fatal, bisa jadi karena perangkat hilang, rusak akibat kecelakaan, atau daya baterainya habis. Walau begitu, setidaknya ada yang bisa menjadi acuan harapan bagi pihak yang ditinggalkan, sebagaimana dialami oleh Leskovac atau McCollum. Oleh karena itulah, seperti diperingatkan oleh Mountain Rescue Aspen, perangkat komunikasi darurat menjadi sesuatu yang penting di era modern, meski tentu saja tak ada yang mengharapkan dirinya mengalami kecelakaan atau hilang.