Kutipan Media - Christopher Waller, anggota Dewan Gubernur The Fed, menyampaikan pernyataan yang mengindikasikan kekhawatiran mendalam mengenai inflasi inti di Amerika Serikat, sekaligus menyoroti kondisi ekonomi yang masih kuat. Pernyataan ini menciptakan dilema bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Pernyataan Waller berfokus pada laju inflasi inti yang terus meningkat. Ia mencatat bahwa meskipun harga energi dan biaya barang mengalami lonjakan, inflasi inti menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dari data yang ada, inflasi PCE inti naik dari 3% di Desember menjadi 3.4% di Mei. Waller menegaskan bahwa kenaikan ini tidak bisa lagi dianggap sebagai fenomena sementara.
Waller mempertanyakan apakah tren inflasi ini akan berlanjut atau berbalik menuju target 2% The Fed. Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi AS saat ini menunjukkan belanja rumah tangga dan bisnis yang kuat, serta pasar tenaga kerja mendekati tingkat penuh. Namun, Waller menyadari risiko dari pengetatan kebijakan moneter yang berlebihan, yang dapat memicu resesi. Ia juga menekankan bahwa pasar tenaga kerja tidak seketat tahun 2021, dan ekspektasi inflasi saat ini masih terjaga.
Pernyataan Waller memicu sentimen hawkish di pasar keuangan global, dengan dolar AS mengalami penguatan. Hal ini dapat menekan pasangan mata uang EUR/USD dan GBP/USD, sementara USD/JPY berpotensi naik. Emas, sebagai aset safe-haven, menghadapi tantangan dari penguatan dolar dan kemungkinan kenaikan suku bunga. Para trader diharapkan untuk mencermati data inflasi mendatang sebagai penentu arah pasar.