Trump Tarik Diri dari KTT G20 karena Klaim Penganiayaan Warga Kulit Putih di Afrika Selatan
Perbesar
Liputan6.com, Washington D.C - Amerika Serikat dipastikan tidak akan menghadiri KTT G20 di Afrika Selatan, setelah Presiden Donald Trump menuding—berdasarkan klaim yang telah dibantah luas—bahwa warga kulit putih di negara tersebut sedang dianiaya.
Trump menilai keputusan menjadikan Johannesburg sebagai tuan rumah G20 bulan ini sebagai hal yang "sangat memalukan". Ia menyatakan di platform Truth Social bahwa warga Afrikaner "dibunuh dan dibantai", sementara tanah pertanian mereka "disita secara ilegal".
BACA JUGA: Direktur FBI Gugat Media AS Usai Singgung Kebiasaannya Minum Alkohol Berlebihan
BACA JUGA: Menteri Trump Mundur di Tengah Tuduhan Penyalahgunaan Kekuasaan
Karena itu, menurutnya, tidak akan ada pejabat AS yang hadir selama apa yang ia sebut sebagai pelanggaran HAM masih terjadi, dikutip dari laman BBC, Minggu (9/11/2025).
Pemerintah Afrika Selatan langsung menanggapi keras. Kementerian Luar Negeri menyebut keputusan Washington D.C sebagai sesuatu yang "sangat disesalkan".
Juru bicara kementerian, Chrispin Phiri, mengatakan kepada BBC News bahwa keberhasilan KTT G20 "tidak bertumpu pada satu negara anggota", dan menegaskan tidak ada bukti bahwa warga kulit putih sedang menjadi target penganiayaan.
Phiri bahkan menyebut Trump "menciptakan krisis imajiner dengan memanfaatkan sejarah kelam kolonialisme Afrika Selatan". Ia menambahkan, tingkat kejahatan yang terjadi di negara itu memengaruhi semua warga tanpa memandang ras.
Tidak ada partai politik di Afrika Selatan—termasuk yang mewakili komunitas Afrikaner—yang pernah menyatakan terjadinya genosida terhadap warga kulit putih. Klaim tersebut bahkan sudah dinyatakan "jelas dibuat-buat" oleh pengadilan Afrika Selatan pada Februari lalu.
Meski sebelumnya Trump sempat mengatakan akan mengirimkan Wakil Presiden JD Vance untuk mewakilinya, Gedung Putih kini menegaskan bahwa tidak akan ada pejabat AS yang hadir di Johannesburg.
Ketegangan AS dan Afrika Selatan
Perbesar
Ketegangan antara Washington dan Pretoria semakin terasa sejak Trump kembali menjabat pada Januari. Ia berulang kali menuduh Afrika Selatan mendiskriminasi minoritas kulit putih, termasuk ketika ia berhadapan langsung dengan Presiden Cyril Ramaphosa di Ruang Oval pada Mei lalu.
Pemerintah Afrika Selatan juga menanggapi klaim-klaim tersebut dengan tegas. Dalam pernyataan resmi, mereka menolak pelabelan Afrikaner sebagai "kelompok kulit putih eksklusif" dan kembali menegaskan bahwa tidak ada data atau bukti yang mendukung narasi penganiayaan.
Di sisi lain, pemerintahan Trump memberikan status pengungsi kepada sejumlah warga Afrikaner, meski klaim yang mendasarinya telah dibantah. Bahkan pekan lalu, Gedung Putih mengumumkan pembatasan besar-besaran terhadap penerimaan pengungsi, namun memberikan prioritas bagi pelamar dari Afrika Selatan—kebijakan yang mendapat respons dingin dari Pretoria.
KTT G20 sendiri merupakan forum kerja sama ekonomi negara-negara dengan perekonomian terbesar dunia, didirikan pada 1999 usai krisis finansial Asia. Para pemimpin negara anggota berkumpul setiap tahun bersama perwakilan Uni Eropa dan Uni Afrika untuk membahas tantangan ekonomi global. Tahun ini, Afrika Selatan menjadi tuan rumah sebelum giliran Amerika Serikat pada pertemuan berikutnya.




