Kutipan Media - DENPASAR, NusaBali.com - Nama penyanyi Bali Tut Asmara masih lekat di ingatan penggemar musik pop Bali, terutama pada masa kejayaan Trio Januadi di era awal 2000-an.
Grup ini digawangi tiga personel yakni Tut Asmara, Ary Kencana, dan Jaya Pangus. Meski kini jarang terlihat di panggung hiburan, penyanyi yang juga pengusaha ini menegaskan dirinya tidak pernah benar-benar meninggalkan musik.
Pemilik nama asli I Ketut Kenceng Asmara Putra, pria kelahiran 31 Desember 1968, dikenal sebagai figur multitalenta. Ia merupakan suami dari Ni Wayan Yuliawati, ayah tiga orang anak dengan satu cucu. Selain dunia musik, Tut Asmara juga menekuni berbagai usaha, mulai dari bisnis SPBU, Arshop Silver, hingga pengelolaan villa. Di sela kesibukan, ia tetap meluangkan waktu untuk hobi bersepeda, berenang, dan berkebun.
Saat ditemui NusaBali baru-baru ini, Tut Asmara mengungkapkan kesibukannya kini justru lebih banyak berada di luar dunia hiburan. “Kesibukan utama sekarang di bisnis properti dan artshop. Tambahannya saya juga jadi barista di Kirani Kopi,” ujarnya santai.
Walau fokus bergeser, musik tetap berjalan sebagai bagian dari hidupnya. Ia masih aktif mengelola kanal YouTube Januadi Record dan rutin bermusik di ruang pribadinya. “Latihan vokal masih tiap hari, sekadar menjalani hobi. Saya punya ruang musik sendiri, jadi tetap berkarya walau tidak tampil di panggung,” katanya.
Tut Asmara mengakui frekuensi tampil yang berkurang bukan karena kehilangan tawaran, melainkan keputusan pribadi. Faktor usia dan prioritas hidup menjadi pertimbangan utama. “Jarang manggung memang pilihan sendiri, juga karena umur. Sekarang aktivitas bisnis dan keluarga jadi prioritas,” jelasnya.
Ia pun merasa nyaman dengan fase hidup saat ini. Baginya, tidak tampil sesering dulu bukanlah kehilangan. “Tidak apa-apa jarang tampil. Semua kemauan diri sendiri dan sekarang sudah banyak kesibukan lain,” tambahnya.
Membicarakan masa Trio Januadi, Tut Asmara langsung tersenyum. Ia mengaku terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan. “Terlalu banyak kenangan, semuanya sangat berkesan,” ungkapnya singkat namun penuh makna.
Ia juga melihat perubahan besar dalam industri musik Bali dibanding masa awal kariernya. Menurutnya, popularitas musisi saat ini bisa diraih jauh lebih cepat berkat media sosial. Namun di era 2000-an, perjalanan menuju ketenaran memang lebih lambat tetapi memiliki daya tahan panjang.
“Sekarang promosi dan terkenal lebih cepat karena banyak sosial media. Dulu terkenal agak lambat, tapi bisa bertahan lama,” ujarnya.
Sementara itu, Tut Asmara mengaku bangga melihat Ary Kencana, rekan lamanya di Trio Januadi, kini kembali menikmati masa sibuk manggung. Tut Asmara juga salat melihat perjalanan karier sahabatnya itu tetap konsisten.
“Dari dulu sampai sekarang Ary tidak pernah pudar. Lagu-lagunya bagus dan romantis, sangat mengena di masyarakat,” katanya.
Ia bahkan berseloroh kesuksesan Ary Kencana turut memberi dampak positif bagi kanal YouTube Januadi Record yang masih aktif hingga sekarang.
Ketika ditanya soal kemungkinan comeback atau merilis lagu baru, Tut Asmara menjawab realistis. Kesibukan masing-masing personel membuat rencana tersebut sulit terwujud. “Kalau comeback kayaknya sulit karena kesibukan masing-masing,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak memiliki ambisi musik yang belum tercapai. Setelah berkarier sejak 1997, Tut Asmara merasa perjalanan musikalnya sudah lengkap. “Saya sudah puas pernah jadi penyanyi dari tahun 1997,” pungkasnya. *isu