Uni Emirat Arab Resmi Keluar dari OPEC, Menandai Perubahan Besar dalam Energi Global
Sumber Foto: CNBC Indonesia
Inti Pernyataan

Uni Emirat Arab Resmi Keluar dari OPEC, Menandai Perubahan Besar dalam Energi Global

Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pengunduran diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang akan efektif mulai 1 Mei 2026. Pengumuman ini disampaikan melalui kantor berita resmi UEA, WAM, dan menandai perubahan signifikan dalam peta kekuatan energi global.

Keputusan ini diambil sebagai bagian dari visi ekonomi jangka panjang UEA, yang bertujuan untuk memberikan kebebasan lebih dalam mengembangkan sektor energinya tanpa terikat pada aturan kelompok. Dalam pernyataan resminya, pemerintah UEA menyebutkan, "Keputusan ini sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang Uni Emirat Arab serta pengembangan sektor energinya, termasuk mempercepat investasi dalam produksi energi domestik."

Pengunduran diri UEA menjadi pukulan berat bagi OPEC, terutama bagi Arab Saudi, mengingat UEA adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia yang menyuplai sekitar 3% hingga 4% dari total pasokan minyak global. Selain itu, UEA juga mengonfirmasi bahwa mereka akan keluar dari aliansi OPEC+, yang juga melibatkan Rusia.

Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, menjelaskan lebih lanjut melalui media sosialnya dengan menyatakan bahwa keputusan ini merupakan bentuk evolusi yang disesuaikan dengan kondisi pasar saat ini. "Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC mencerminkan evolusi berbasis kebijakan yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang," tuturnya.

Walaupun keluar dari OPEC, Mazrouei menegaskan bahwa UEA akan tetap berperan aktif dalam menjaga ketersediaan energi global. Ia menekankan komitmen UEA untuk menyediakan pasokan energi yang andal, bertanggung jawab, dan rendah karbon, serta mendukung stabilitas pasar global.

Selama ini, UEA diketahui telah berupaya mendorong OPEC untuk meningkatkan kuota produksi minyak mereka, seiring dengan ambisi negara tersebut untuk memperluas kapasitas produksinya melampaui batas yang ditetapkan oleh kartel. UEA telah menjadi bagian dari OPEC sejak 1967, tujuh tahun setelah organisasi ini didirikan oleh lima negara penggagas, yaitu Arab Saudi, Iran, Irak, Venezuela, dan Kuwait. Keluarnya UEA menjadi sorotan karena OPEC secara kolektif mengontrol hampir 80% cadangan minyak terbukti di dunia.